Edi awalnya hanyalah seorang buruh pabrik biasa dengan penghasilan UMR yaitu 2,6
juta per bulan. Dan dia sadar bahwa dia tidak bisa menggantungkan dirinya dari penghasilan sebagai buruh pabrik yang pas-passan.
Mulailah dia coba-coba berbisnis, namun entah mengapa selalu bangkrut sampai berhutang dia mencapai 50jt rupiah. Dan bila dia hanya mengandalkan gajinya untung melunasi maka bisa jadi 10 tahun baru lunas.
Dibalik kesulitan pasti
ada kemudahan. Itulah yang dipegang oleh Edi. Suatu hari sang istri mendengar
bahwa ada program magang yang diadakan oleh jaringan toko H. Alay Tanah Abang.
H. Alay adalah seorang pengusaha yang memiliki jaringan toko di tanah Abang.
Setiap tahun sellau menerima “murid” magang untuk diajari berdagang baju.
Mengingat Tanah Abang adalah pusat dari
perkulakan tekstil maka Edi pun ikut mendaftar.
Syarat mengikuti magang itu harus bekerja enam hari seminggu selama 3 bulan
nonstop dan tidak digaji. Edi pun memilih mengundurkan diri dari tempat
bekerjanya agar bisa ikut magang. Sang istri pun sangat mendukung keputtusannya
itu. Edi sangat bersyukur sekali istrinya tidak menghalanginya resign dari
perusahaan. Apalagi perusahaan juga memberi pesangon 55 juta rupiah. “Saya
bersyukur, meski saya mengundurkan diri, tapi pihak manajemen masih memberi
pesangon Rp. 55 juta sehingga saya bisa melunasi utang saya. Sisanya untuk
modal saya. Dan, karena saya tidak bekerja lagi, istri saya bersedia bekerja
kembali di pabrik tas. Itulah bentuk dukungan luar biasa dari istri saya,”
ujarnya.
Edi mulai ikut magang sekitar
bulan Maret 2007. “Sebab kalau diterusin kerja di pabrik, saya udah enggak
semangat. Hampir semua gaji saya habis untuk bayar cicilan utang. Bayangkan,
utang saya baru lunas sekitar 10 tahun. Makanya saya semangat pindah quadran,”
katanya.
Edi sangat merasakan manfaat
magang ditempat H. Alay. Apalagi ketika selesai, Edi dimodali 50 juta untuk
mmebuka toko mukenah oleh H. Alay. Edi pun lalu mmebuka lapa sendiri di Tanah
Abang blok F3. Dimana ia bekerja sama dengann H. Alay untuk membuka toko
pakaian anak. Edi juga dimodali celana anak dari kain perca sejumlah 200 juta.
Membuka Bisnis Online
“Setelah tiga tahun bekerja sama
dengan H. Alay, akhirnya saya memutuskan untuk mandiri, maksudnya supaya bisa
lebih kreatif mengembangkan bisnis sendiri. Toko offline saya kembalikan kepada
pak haji, lalu saya fokus mengembangkan bisnis online,” Ujar Edi.
Edi lalu mencari investor yang
mau memberinya investasi 100 juta dengan konsep bagi hasil. “Ternyata semangat
bagi hasil sangat mendukung upaya saya mengembangkan bisnis online. Rencana
saya kedepan, ingin mengajak toko-toko di Tanahabang membuka toko online.
Sambutannya positif bahkan beberapa sangat antusias. Mimpi saya, semoga kawasan
Tanahabang bebas macet karena semua transaksi lewat internet,” ujar Edi mantap.
Edi menyewa toko yang berada
dikawasan sepi di Tanah Abang alasannya memang dia tidak terlalu butuh
keramaian karena semua dikerjakan online. “Saya sengaja memilih lantai yang
sepi. Sebab, 100% transaksi bisnis saya lewat internet. Disini lokasi enggak
penting. Tempat sepi, sewanya lebih murah. Yang penting, masih ada bau-bau
Tanahabang,” ujar Edi.
Edi membuka toko online
grosirtanahabang.com dan grosir pakaian bayi dan anak online dimana omset per
bulannya lebih dari 100 juta per bulan.
Setelah bisnisnya maju pesat, Edi
kemudian ingin mengajak orang lain untuk usaha online juga. “Jangan takut
berwirausaha karena ternyata tak seberat dan sesulit yang kita bayangkan.
Disini saya ingin sharing ilmu dan pengetahuan agar orang yang mulai bisnis tak
melewati tahap trial and error yang terlalu berat seperti saya dulu,” ujar Edi.
Membuka Kerja Sama
Edi mengajak orang dengan
mengadakan paket kerjasama. “Bahkan, saya siap bantu orang yang mau jualan
(pakaian bayi-Red) dan enggak punya modal. Tapi, basisnya tetap toko online,”
tambahnya. Syarat yang diajukan Edi pada calon rekan bisnisnya
pun gampang, tak sesulit dirinya dulu yang harus ikut magang tanpa digaji dan
harus keluar dari pekerjaan yaitu hanya harus memiliki blok dan akun facebook.
Edi akan mengirim foto-foto pakaiannya untuk dipasang di blog atau akun
facebooknya dan mereka tinggal mmepromosikannya saja. “Kalau ada pesanan,
tinggal salurkan kepada saya. Dari transaksi itu, mereka akan dapat untung. Di
sini selain bisa bantu orang, saya juga diuntungkan karena punya ujung tombak
pemasaran dimana-mana,” kata Edi mengenai startegi marketingnya.
Edi juga menyediakan lima paket
kerjasama usaha, mulai dari paket distributor wilayah dengan modal awal Rp. 10
juta, paket toko bayi (start up Rp. 13 juta dan paket toko lengkap Rp. 46
juta), paket sample produk hingga paket toko online plus produknya seharga 2,5
juta.
Terkait dengan paket usaha dan
kerjasama yang ditawarkan itu, dia memberikan komitmen penuh dengan menyediakan
layanan konsultasi 24 jam, baik dalam manajemen toko online maupun strategi
pemasaran.
“Kami juga menyediakan karyawan
yang meng-handle pesanan Anda, mulai dari penerimaan, persiapan, packing hingga
pengiriman barang. Kami juga selalu siapkan barang lengkap, dengan stok senilai
lebih dari Rp. 500 juta sehingga selalu bisa memenuhi pesanan pelanggan,”
ujarnya.
Edi juga melebarkan sayap
bisnisnya dengan mmebuka dua usaha yaitu IT Consulting dan Online Marketing
serta dibidang produksi dan distribusi juga penjualan. Proyek Edi ini telah
menggarap kaos anak, remaja dan busana muslim dengan kapasitas produksi 3000
lusin per hari.
Itulah Edi. Dengan tekad dan
keyakinan “pasti bisa” akhirnya ia mampu menyelesaikan problem hidupnya. Tak
hanya utang banknya terlunasi namun juga bisa berbisnis sendiri tanpa harus
mengandalkan kerja sebagai buruh. Tentunya hasil yang diperoleh dengan usaha
sendiri jauh lebih besar daripada cuman menjadi karyawan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar